KEMUKJIZATAN Al-QUR’AN MAKNA DAN ASPEK-ASPEKNYA
Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah
Study Al-Qur’an
Oleh :
Mulyadi NIM. 13160026
Dosen Pengampu :
Dr. Ahmad Munir, MA
PROGRAM
PASCASARJANA
MAGISTER
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PONOROGO
BAB I
PENDAHULUAN
Al-Qur`an sebagai kitab samawi terakhir yang diberikan kepada
Muhammad SAW sebagai penuntun dalam rangka pembinaan umatnya sangatlah
fenomenal. Lantaran di dalamnya sarat nilai-nilai yang unik, pelik dan rumit
sekaligus luar biasa. Hal ini lebih disebabkan karena eksistensinya yang tidak
hanya sebagai ajaran keagamaan saja, melainkan ajaran kehidupan yang mencakup
total tata nilai semenjak hulu peradaban umat manusia hingga hilirnya.
Diantara nilai-nilai tersebut adalah pada aspek
kebahasaannya, isyarat-isyarat ilmiyah dan muatan hukum yang terkandung
didalamnya. Saking pelik, unik, rumit dan keluar biasanya tak pelak ia menjadi
objek kajian dari berbagai macam sudutnya, yang darinya melahirkan ketakkjuban
bagi yang beriman dan cercaan bagi yang ingkar.
Namun demikian, seiring dengan waktu dan kemajuan
intelkstualitas manusia yang diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan
modern, sedikit demi sedikit nilai-nilai tersebut dapat terkuak dan berpengaruh
terhadap kesadaran manusia akan keterbatasan dirinya, sebaliknya mengokohkan
posisi Al-Qur`an sebagai kalam Tuhan yang Qudus yang berfungsi sebagai petunjuk
dan bukti terhadap kebenaran risalah yang dibawa Muhammad. Serentetan nilai
Al-Qur`an yang unik, pelik, rumit sekaligus luar biasa hingga dapat menundukkan
manusia dengan segala potensinya itulah yang lazimnya disebut dengan MUKJIZAT.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Defzenisi Kemukjizatan dan Ketetapan
I’jaz (kemukjizatan) adalah menetapkan kelemahan. Kelemahan
menurut pengertian umum ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari
kemampuan. Apabila kemukjizatan telah terbukti, maka nampaklah kemapuan mu’jiz
(sesuatu yang melemahkan). Yang dimaksud dengan i’jaz dalam pembicaraan
ini ialah menampakkan kebenaran Nabi dalam pengakuannya sebagai Rasul dengan
menampakkan kelemahan orang Arab untuk menghadapi mukjizatnya yang abadi, yaitu
al-Qur’an, dan kelemahan generasi-generasi sesudah mereka. Dan mukjizat adalah
sesuatu hal yang luar biasa yang disertai tantangan dan selamat dari perlawanan.
Mukjizat menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai "kejadian ajaib yang
susah dijangkau oleh kemampuan akal manusia "
Kata mukjizat
terambil dari bahasa Arab a'jaza yang berarti "melemahkan"
atau menjadikan tidak mampu, pelakunya (yang melemahkan) dinamai mukjiz dan
apabila kemampuan melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkam
lawan, ia dinamai mukjizat. Tambahan (ة)
pada akhir kata itu mengandung makna mubalaghah (superlatif). Mukjizat
didefenisikan oleh pakar agama Islam, antara lain, sebagai "suatu hal atau
peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang mengakui Nabi, sebagai
bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau
mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu.
Adapun unsur-unsur
yang menyertai mukjizat:
1.
Hal atau
peristiwa yang luar biasa, yang dimaksud dengan luar biasa adalah sesuatu yang
berada diluar jangkauan sebab dan akibat yang diketahui secara umum
hukum-hukumnya, dengan demikian hipnotisme atau sihir,
walaupun sekilas terlihat ajaib atau luar biasa karena dapat dipelajari ia
tidak termasuk dalam pengertian "luar biasa" dalam definisi tersebut.
2.
Terjadi atau
dipaparkan oleh seseorang yang mengaku Nabi. Tidak mustahil terjadi hal-hal di
luar kebiasaan pada diri siapapun. Namun, apabila bukan dari seseorang yang
mengaku Nabi ia tidak dinamai mukjizat. Boleh jadi sesuatu luar biasa tampak
pada diri seseorang yang kelak akan bakal menjadi Nabi ini pun tidak dinamai
mukjizat, tetapi Irhash.
3.
Mengandung
tantangan terhadap yang meragukan kenabian. Tentu saja tantangan ini harus
berbarengan dengan pengakuannya sebagai Nabi.
4.
Tantangan
tersebut tidak mampu atau gagal dilayani. Biasanya aspek kemukjizatan
masing-masing Nabi adalah hal-hal yang sesuai dengan bidang keahlian umatnya.
Rasulullah meminta
orang Arab menandingi al-Qur'an dalam tiga tahapan:
1)
Menantang
mereka dengan seluruh al-Qur’an dalam uslub umum yang meliputi orang Arab
sendiri dan orang lain, manusia dan jin, dengan tantangan mengalahkan kemampuan
mereka secara padu melalui Firman-Nya:“Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia
dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak
dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu
sebagian yang lain.” (al-Isra’ [17]:88)
2)
Menantang
mereka dengan sepuluh surah saja dari al-Qur’an, dalam Firman-Nya:“ Ataukah
mereka mengatakan: Muhammad telah membuat-buat al-Qur’an itu. Katakanlah : (
jika demikian), maka datangkanlah sepuluh surah yang dibuat yang menyamainya,
dan panggilah orang-orang yang sanggup (memanggilah) selain Allah, jika kamu
memang orang-orang yang benar. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima
seruanmu itu, ketahuilah, sesungguhnya al- Qur’an itu diturunkan dengan ilmu
Allah.” (Hud [11]:13-14).
3)
Menantang
mereka dengan satu surah saja dari al-Qur’an, dalam Firman-Nya: “ Atau (patutkah)
mereka mengatakan, Muhammad membuat-buatnya. Katakanlah: (kalau benar-benar
yang kamu katakan itu), cobalah datangkan sebuah surah seumpamanya.” (Yunus
[10]:38). Tantangan ini diulang lagi dalam Firman-Nya:“Dan jika kamu
(tetap) dalam keadaan ragu tentang al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami
(Muhammad), maka buatlah satu surah (saja) yang semisal al-Qur’an itu…”
(al-Baqarah [2]:23).
Kelemahan orang Arab untuk menandingi al-Qur’an padahal
mereka memiliki faktor-faktor dan potensi untuk itu, merupakan bukti tersendiri
bagi kelemahan bahasa Arab di masa bahasa ini berada pada puncak keremajaan dan
kejayaannya.
B. Makna
Mukjizat Al-Qur'an
Jika kita berkata
"Mukjizat al-Qur'an", ini berarti bahwa mukjizat (bukti kebenaran)
tersebut adalah mukjizat yang dimiliki atau yang terdapat di dalam al-Qur'an,
bukannya bukti kebenaran yang datang dari luar al-Qur'an atau faktor luar.
Dari konteks uraian
al-Qur'an, maka yang dimaksud dengan "al-Qur'an" adalah minimal satu
surah walau pendek, atau tiga ayat atau satu ayat yang penjang seperti ayat
"al-Kursi".
Dan cara memahami kemukjizatan al-Qur'an adalah : Pertama,
kepribadian Nabi Muhammad SAW untuk membuktikan kebenaran seorang Nabi tidak
harus melalui mukjizat yang dipaparkannya, tetapi juga dapat dibuktikan dengan
mengenal kepribadian, kehidupan keseharian, akhlak, dan budi pekertinya. Kedua,
kondisi masyarakat saat turunnya al-Qur'an. al-qur'an menamai masyarakat Arab
sebagai masyarakat ummiyyin. walaupun demikian, ini bukan berarti
masyarakat Arab yang dijumpai al-Qur'an pertama kali sama sekali tidak
mempunyai pengetahuan, bahkan, mereka memiliki pengetahuan antara lain dalam
bidang: Astronomi, meteorologi, sedikit tentang umat sekitarnya, pengobatan
berdasar dari pengalaman perdukunan dan semacamnya bahasa dan sastra. Ketiga,
masa dan cara kehadiran al-Qur'an, konteks pembuktian kemukjizatan al-Qur'an
ada dua hal yaitu:
1. Kehadiran
wahyu al-Qur'an di luar kehendak Nabi SAW.
2.
Kehadirannya secara tiba-tiba.
Kemukjizatan
al-Qur’an bagi bangsa-bangsa lain tetap berlaku di sepanjang zaman dan akan
selalu ada dalam posisi tantangan yang tegar. Misteri-misteri alam yang
disingkap oleh ilmu pengetahuan modern hanyalah sebagian dari fenomena
hakikat-hakikat tinggi yang terkandung dalam misteri alam wujud yang merupakan
bukti bagi eksistensi Pencipta dan Perencananya. Dan inilah apa yang
dikemukakan secara global atau diisyaratkan oleh al-Qur’an. Dengan demikian,
al-Qur’an tetap merupakan mukjizat bagi seluruh umat manusia.
Maka dapat
disimpulkan dari keterangan tersebut bahwa al-Qur’an itu mukjizat karena ia
datang dengan lafaz-lafaz yang paling fasih, dalam susunan yang paling indah
dan mengandung makna-makna yang paling valid, sahih, seperti peng-Esa-an Allah,
penyucian sifat-sifat-Nya, ajakan taat kepada-Nya, penjelasan cara beribadah
kepada-Nya, dengan menerangkan hal yang dihalalkan dan diharamkan, dilarang dan
dibolehkan; juga seperti nasihat dan bimbingan, amar ma’ruf, nahi mungkar,
serta bimbingan akhlak yang baik dan larangan dari akhlak buruk. Semua hal-hal
di atas diletakkannya pada tempatnya masing-masing sehingga tidak tampak ada
sesuatu lain yang lebih baik daripadanya, dan tidak bisa dibayangkan dalam
imajinasi akal ada sesuatu lain yang lebih pantas daripadanya, Di samping itu,
ia juga memuat berita tantang sejarah manusia pada abad-abad silam dan azab
yang diturunkan Allah kepada orang-orang durhaka dan menentang-Nya diantara
mereka. Juga ia menceritakan tentang realitas-realitas yang akan terjadi jauh
sebelum terjadi, mengemukakan secara lengkap argumentasi dan hal yang diberi
argumentasi, dalil atau bukti dan hal yang dibuktikannya, agar dengan demikian
ia lebih kuat, mantap, dalam menetapkan kewajiban yang diperintahkannya dan
larangan yang dicegahnya, sebagaimana diserukan dan diberitakannya.
Jelaslah bahwa
mendatangkan hal-hal seperti itu lengkap dengan berbagai ragamnya hingga
tersusun rapi dan teratur, merupakan sesuatu yang tidak disanggupi kekuatan
manusia dan di luar jangkauan kemampuannya. Dengan demikian, sia-sialah makhluk
di hadapannya dan menjadi lemah, tidak mampu, untuk mendatangkan sesuatu yang
serupa dengannya.
Adapun mengenai
segi atau kadar manakah yang mukjizat itu, maka jika seseorang penyelidik yang
objektif dan mencari kebenaran memperhatikan al-Qur’an dari aspek manapun yang
ia sukai, segi uslubnya, segi ilmu pengetahuannya, segi pengaruh yang
ditimbulkannya di dalam dunia dan wajah sejarah yang diubahnya, atau semua segi
tersebut, tentu kemukjizatan itu ia dapatkan dan terang.
Dan sudah
sepantasnya bila dibawah ini kami membicarakan tiga macam aspek kemukjizatan
al-Qur’an, aspek bahasa, aspek ilmiah dan aspek tasyri’ (penetapan hukum).
C.
Kemukjizatan Bahasa
Bahasa yang
dikandung oleh al-Qur’an adalah bahasa yang mana orang Arab tidak mampu untuk
menandinginya, dan bahasa itu tidak keluar dari aturan-aturan kalam mereka,
baik lafaz dan huruf-hurufnya maupun susunan dan uslubnya. Akan tetapi
al-Qur’an jalinan huruf-hurufnya serasi, ungkapannya indah, uslubnya manis,
ayat-ayatnya teratur, serta memperhatikan situasi dan kondisi dalam berbagai
macam bayannya, baik dalam jumlah ismiyah maupun fi’liyah-nya,
dalam nafi’ dan isbat-nya, dalam zikr dan hazf-nya,
dalam tankir dan ta’rif-nya, dalam taqdim dan ta’khir-nya,
dalam itnab dan I’jaz-nya, dalam umum dan khususnya, dalam muthlaq
dan muqayyad-nya, dalam nas dan fahwa-nya, maupun dalam
hal lainnya. Dalam hal-hal tersebut dan yang serupa al-Qur’an telah mencapai
puncak tertinggi yang tidak sanggup kemampuan bahasa manusia untuk
menghadapinya.
Setiap manusia
memusatkan perhatiannya pada al-Qur’an, ia tentu akan mendapatkan
rahasia-rahasia kemukjizatan aspek bahasanya tersebut. Ia dapatkan kemukjizatan
itu dalam keteraturan bunyinya yang indah melalui nada huruf-hurufnya ketika ia
mendengar harakat dan sukunnya, madd dan ghunnahnya,
fasilah dan maqta’nya, sehingga telinga tidak pernah merasa
bosan, bahkan ingin senantiasa terus mendengarnya.
Kemukjizatan itu
pun dapat ditemukan dalam lafaz-lafaznya yang memenuhi hak setiap makna pada
tempatnya. Tidak satupun diantara lafaz-lafaz itu yang dikatakan sebagai
kelebihan.
Juga tak ada
seseorang peneliti terhadap suatu tempat (dalam al-Qur’an) menyatakan bahwa
pada tempat itu perlu ditambahkan sesuatu lafaz karena ada kekurangan.
Orang Arab tidak
mempunyai kalam yang mencakup fashahah, gharabah (keanehan), rekayasa yang indah,
makna yang halus dan faedah yang berlimpah, hikmah yang meruah, keserasian
balagah dan keterampilan bara’ah sebanyak dan dalam kadar seperti itu.
Kata-kata hikmah (bijak) mereka hanyalah beberapa kata dan sejumlah lafaz. Dan
para penyairnya pun hanya mampu mengubah beberapa buah qasadah. Itupun
mengandung kerancuan dan kontradiksi serta pemaksaan dan kekaburan. Sedangkan
al-Qur’an, yang sedemikian banyak dan panjang, ke-fasahahannya senantiasa indah
dan serasi, sesuai dengan apa yang digambarkan Allah:
“ Allah telah menurunkan yang paling baik (yaitu) al- yang serupa (mutu
ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu
mengingat Allah,” (az-Zumar [39]:23),
dan: “Dan sekiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi
Allah tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.”
(an-Nisa’ [4]:82).
Betapa menakjubkan
rangkain al-Qur’an dan betapa indah susunannya. Tak ada kontradiksi dan
perbedaan di dalamnya, padahal ia membeberkan banyak segi yang dicakupnya,
seperti kisah dan nasihat, argumentasi, hikmah dan hukum, tuntunan dan
peringatan, janji dan ancaman, kabar gembira dan berita duka, serta akhlak
mulia, pekerti tinggi, perilaku baik dan lain sebagainya. Sementara itu kita
dapatkan kalam pujangga pentolan, penyair ulung dan orator agitator akan
berbeda-beda dan berlainan sesuai dengan hal-hal tersebut. Diantara penyair ada
yang hanya pandai memuji tetapi tidak pandai mencaci. Ada yang unggul dalam
kelalaian tetapi tidak pandai dalam peringatan. Ada pula yang pandai melukiskan
unta dan kuda, memberikan perjalanan malam, menggambarkan peperangan, taman,
kamar, senda gurau, cumbuan dan lain-lainnya yang dapat dicakup dalam syair dan
dituangkan dalam kalam.
D.
Kemukjizatan Ilmiah
Kemukjizatan
al-Qur’an bukanlah terletak pada pencakupannya akan teori-teori yang selalu
baru dan berubah serta merupakan hasil usaha manusia dalam penelitian dan
pengamatan. Tetapi ia terletak pada dorongannya untuk berpikir dan menggunakan
akal. Al-Qur’an mendorong manusia agar memperhatikan dan memikirkan alam. Ia
tidak mengembiri aktivitas dan kreatifitas akal dalam memikirkan alam semesta,
atau menghalanginya dalam penambahan ilmu pengetahuan yang dapat dicapainya.
Dan tidak ada sebuah pun dari kitab-kitab agama terdahulu memberikan jaminan
demikian seperti yang diberikan oleh al-Qur’an.
Allah berfirman
“Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda kekuasasan (kami) kepada orang-orang
yang berpikir.” (Yunus [10]:24),
“sesungguhnya pada
yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang
memikirkan.” (ar-Ra’d [13]:3),
“Demikianlah kami
menjelaskan tanda-tanda kebesaran (kami) kepada kaum yang mengetahui.”
(al-A’raf [7]:32),
“Sungguh kami telah
menjelaskan tanda-tanda kebesaran kami kepada kaum yang mengetahui.” (al-An’am
[6]:97), dan masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang hal
tersebut.
Demikianlah.
Kemukjizatan al-Qur’an secara ilmiah ini terletak pada dorongannya kepada umat
islam untuk berpikir disamping membukakan bagi mereka pintu-pintu pengetahuan
dan mengajak mereka memasukinya, maju di dalamnya dan menerima segala ilmu
pengetahuan baru yang mantap, stabil. Disamping hal-hal diatas di dalam al-
terdapat isyarat-isyarat ilmiah yang diungkapkan dalam konteks hidayah.
Misalnya, Pada darah yang sempurna terdapat 25 triliyun sel darah merah untuk
memindahkan oksigen dan 25 milyar sel darah putih untuk memperbaiki kerusakan
dan imunitas tubuh. Di samping itu, terdapat triliyunan saringan darah untuk
mencegah pecahnya pembuluh darah kerena adanya pembekuan pada beberapa pembuluh
darah. Pada awalnya, sel ini terbentuk pada pangkal tulang yang mengalirkan
2.500.000 sel darah merah dalam satu detik, 5 juta keping dan 110.000 sel darah
putih. Semua itu penting untuk menghasilkan elemen-elemen darah yang kemudian
tumbuh berlipat ganda. Fungsi ini fluktuatif dan semakin menurun ketika usia
seseorang semakin tua. Ayat berikut ini menggambarkan kondisi ketika usia
mencapai sekitar 30-50 tahun:
Ia (zakaria)
berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah
ditumbuhi uban. Aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu, ya Tuhanku.
(QS. Maryam: 4).
Allah SWT.
Berfirman:
وَمِنْ
آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافُ أَلْسِنَتِكُمْ
وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ (٢٢)
"Dan diantara
tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi dan perbedaan bahasa
dan warna kulitmu. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Ar-Rum: 22).
Kita perhatikan
potongan ayat “dan perbedaan bahasa dan warna kulitmu…”. Para pakar berpendapat
bahwa pada kulit manusia terdapat sel-sel serangga yang berbentuk seperti
serangga. Ujung-ujungnya memanjang benang tipis. Setiap satu inci, jumlah sel
ini mencapai 6.000 sel. Tidak ada perbedaan jumlah sel antara kulit putih dan
kulit hitam. Sel pada orang kulit putih dan kulit berwarna sama, akan tetapi
perbedaan warna tergantung pada ketebalan unsur yang berwarna. Unsur ini
dinamakam sebagai melanin. Orang yang berkulit terang dan gelap memiliki
perbedaan unsur warna tidak lebih dari satu gram saja. Akan tetapi, Sesuatu
yang mengherankan bahwa setiap sel sepuluh tahun sel menurun sekitar 10 – 20%.
Oleh karena itu, ada perubahan warna kulit manusia sejalan dengan bertambahnya
usia menjadi lebih cerah dan lebih putih. Itu disebabkan oleh terserapnya unsur
tersebut kedalam sel serangga yang berada di permukaan kulit dan bertambah
jumlahnya dalam setiap inci sekitar 6.000 sel.ini di karenakan ukuran unsur
warna ini dibatasi oleh unsur genetik pada gelembung/bulatan sel’ Akan tetapi,
apa hubungan dan
penjelasan warna gelap bagi mereka yang tinggal di daerah garis katulistiwa
dengan mereka yang tinggal di kutub utara dan selatan yang memiliki kulit
terang? Di sinilah letak hikmah Allah kepada makhluk-Nya. Keistimewaan kulit
dengan unsur gelap adalah mampu menyerap sinar ultraviolet yang buruk, karena
sinar matahari pada daerah katulistiwa sangat panas. Karena itulah penduduk
yang tinggal di daerah ini memiliki warna kulit yang gelap.
Segala upaya untuk
menghubungkan isyarat-isyarat umum al-Qur’an dengan teori-teori yang selalu
baharu dan berubah-ubah yang telah dicapai oleh ilmu pengetahuan, atau bahkan
dengan hakikat-hakikat ilmiah itu sendiri yang tidak mutlak sebagaimana telah
kita kemukakan, akan mengandung, pertama-tama, kelemahan metodologis yang
prinsipil di samping mengandung pula tiga makna yang kesemuanya tidak pantas
bagi keagungan al-Qur’an:
Pertama, kekalahan intern yang menyebabkan sebagian orang
memandang ilmu pengetahuan sebagai batu uji yang diikuti, sedang al-Qur’an
harus mengikuti. Oleh karena itu mereka berusaha memantapkan al-Qur’an dengan
ilmu pengetahuan atau membuktikan kebenarannya berdasarkan ilmu pengetahuan,
padahal al-Qur’an adalah kitab suci yang sempurna isinya dan final
hakikat-hakikatnya. Sedang ilmu pengetahuan yang sekarang selalu membatalkan
apa yang telah ditetapkan kemarin. Segala apa yang yang dicapainya tidak mutlak
dan tidak final, karena ia terikat dengan sarana yang berupa manusia, akal dan
alatnya yang kesemuanya itu pada hakikatnya tidak memberikan hakikat yang satu,
final dan mutlak.
Kedua, kesalahpahaman terhadap watak dan fungsi al-Qur’an
adalah sebuah hakikat yang final dan mutlak, menangani pembangunan manusia
dengan cara yang sesuai, menurut kadar tabiat manusia yang nisbi, dengan tabiat
alam dan hukum ilahinya, sehingga manusia tidak akan berbenturan dengan alam
sekelilingnya. Tetapi agar ia sejalan dengan alam dan mengenali sebagian
misterinya serta dapat memanfaatkan beberapa hukumnya untuk kekhalifahannya.
Hukum-hukum yang di singkapnya melalui pengamatan, penyelidikan, percobaan dan
penerapan, sesuai dengan petunjuk akal yang dikaruniakan kepadanya untuk bekerja,
bukan hanya menerima pengetahuan-pengetahuan material yang telah siap.
Ketiga, pentakwilan terus- menerus,dengan pemaksaan dan
pemerkosaan, terhadap nas-nas al-Qur’an agar dapat dibawa dan diselaraskan
dengan asumsi-asumsi dan teori-teori yang tidak tetap dan labil, padahal setiap
hari selalu muncul teori baru.
E.
Kemukjizatan Tasyri’
Al-Qur’an adalah
menyucikan jiwa seorang Muslim dengan akidah tauhid yang
menyelamatkannya dari kekuasaan khurafat dan waham, dan
memecahkan belenggu perbudakan hawa nafsu dan syahwat, agar ia menjadi hamba
Allah yang ikhlas yang hanya tunduk kepada Tuhan, pencipta yang Disembah.
Qur’an juga menanamkan rasa tinggi hati kepada selain Dia, sehingga tidak
membutuhkan makhluk, melainkan khalik yang mempunyai kesempurnaan mutlak dan
memberikan kebaikan kepada seluruh makhluk-Nya. Dialah Khalik Yang Tunggal,
Tuhan Yang Esa, Yang Pertama dan Yang Terakhir, Mahakuasa atas segala sesuatu,
Mahatau dan Meliputi segalanya, serta tidak ada sesuatu pun serupa dengan-Nya.
Apabila akidah
seorang muslim telah benar, maka ia wajib menerima segala syari’at al-Qur’an
baik menyangkut kewajiban maupun ibadah. Setiap ibadah yang difardlukan
dimaksudkan untuk kebaikan individu, dan disamping itu ibadah pun erat
kaitannya dengan kebaikan kelompok ( masyarakat).
Ringkasnya,
al-Qur'an merupakan Dustur Tasyri' paripurna yang menegakkan kehidupan
manusia di atas dasar konsep yang paling utama. Dan kemukjizatan Tasyri nya
ini bersama dengan kemukjizatan ilmiah dan kemukjizatan bahasanya akan
senantiasa eksis untuk selamanya dan tidak seorang pun dapat mengingkari bahwa
al-Qur'an telah memberikan pengaruh besar yang dapat mengubah wajah sejarah
dunia.[18]
Hal-hal yang menginspirasi kita untuk berkomitmen dalam-dalam terhadap
kehidupan dan menciptakan satu masyarakat yang damai berlandaskan keadilan dan
kasih sayang. Kita tidak buta terhadap yang ditemukan oleh rekan-rekan kita;
kita hanya sedikit lebih sabar dengan penanda-penanda banyak persoalan dan
sedikit lebih yakin terhadap gambaran keseluruhan al-Qur'an tentang
penderitaan, ketabahan, perlawanan, dan
pembebasan.
Mengenai kepastian absolut al-Quran mempunyai frase yang menarik:
"sembahlah tuhanmu hingga kepastian absolut (yakin) mendatangimu.
Kebanyakan ulama menafsirkan "yakin" disini dalam arti
"kematian".
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Pemakalah merasa
berkewajiban untuk menggaris bawahi bahwa apa yang terdapat di dalam makalah
ini hanyalah sekelumit dari mukjizat al-Qur'an serta keistimewaannya itu pun
dari tiga aspek yaitu bahasa, ilmiah, dan tasyri'.
Memang tidak mudah
memaparkan segala aspek kemukjizatan dan keistimewaan kitab suci itu
lebih-lebih apabila dimaksudkan untuk mengungkap secara utuh dan tuntas segala
aspeknya. Al-Ghazali berkata " segala ilmu, yang lalu dan akan datang yang
telah punah dan yang akan lahir semuanya dikandung oleh kitab suci al-Qur'an.
Rasulullah SAW yang
menerima al-Qur'an dan yang paling tahu tentang kandungannya, melukiskan
al-Qur'an sebagai " di dalamnya kabar masa lampau, berita masa akan
datang, tidak lekang oleh panas, tidak lapuk oleh hujan, tidak terhenti
keajaibannya, dan tidak pula usang oleh banyaknya diskusi tentangnya.
"sungguh tepat ilustrasi yang menyatakan bahwa al-Qur'an bagaikan intan
yang memancarkan berbagai cahaya, cahaya yang dipandang pada posisi tertentu
berbeda dengan cahaya yang dipancarkannya pada posisi yang lain. Bahkan dapat
berbeda dan beragam akibat keragaman yang memandang, tetapi kesemuanya dapat
dinilai benar dan jitu.
Dari sinilah, kita
harus mengakui bahwa kemukjizatan dan keistimewaan al-Qur'an yang dipaparkan
oleh siapa pun dan kapan pun belum mencerminkan keseluruhan mukjizat dan
keistimewaannya.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Ahmad,
Yusuf. Ensiklopedi Keajaiban al-Qur'an, Jakarta Pusat, 2009.
2.
Esack,
Farid. Samudera al-Qur'an, Jogjakarta, DIVA Press, 2002.
3.
http://mukjizatal-quran.blogspot.com
4.
Qattan,
Manna khalil. terjemahan Studi Ilmu-Ilmu al-Quran, Bogor: Litera
Antarnusa, 2009.
5.
Shihab, M.
Quraish. Mukjizat al-Qur'an, Bandung, PT Mizan Pustaka, 2007.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar