Kamis, 29 Januari 2015

KEMUKJIZATAN AL-QUR'AN MAKNA DAN ASPEK-ASPEKNYA



 

KEMUKJIZATAN Al-QUR’AN MAKNA DAN ASPEK-ASPEKNYA

 

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah

Study Al-Qur’an

 

 

 


Oleh :
Mulyadi               NIM. 13160026



Dosen Pengampu :
Dr. Ahmad Munir, MA




PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO

BAB I
PENDAHULUAN

Al-Qur`an sebagai kitab samawi terakhir yang diberikan kepada Muhammad SAW sebagai penuntun dalam rangka pembinaan umatnya sangatlah fenomenal. Lantaran di dalamnya sarat nilai-nilai yang unik, pelik dan rumit sekaligus luar biasa. Hal ini lebih disebabkan karena eksistensinya yang tidak hanya sebagai ajaran keagamaan saja, melainkan ajaran kehidupan yang mencakup total tata nilai semenjak hulu peradaban umat manusia hingga hilirnya.
Diantara nilai-nilai tersebut adalah pada aspek kebahasaannya, isyarat-isyarat ilmiyah dan muatan hukum yang terkandung didalamnya. Saking pelik, unik, rumit dan keluar biasanya tak pelak ia menjadi objek kajian dari berbagai macam sudutnya, yang darinya melahirkan ketakkjuban bagi yang beriman dan cercaan bagi yang ingkar.
Namun demikian, seiring dengan waktu dan kemajuan intelkstualitas manusia yang diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, sedikit demi sedikit nilai-nilai tersebut dapat terkuak dan berpengaruh terhadap kesadaran manusia akan keterbatasan dirinya, sebaliknya mengokohkan posisi Al-Qur`an sebagai kalam Tuhan yang Qudus yang berfungsi sebagai petunjuk dan bukti terhadap kebenaran risalah yang dibawa Muhammad. Serentetan nilai Al-Qur`an yang unik, pelik, rumit sekaligus luar biasa hingga dapat menundukkan manusia dengan segala potensinya itulah yang lazimnya disebut dengan MUKJIZAT.













BAB II
PEMBAHASAN

A. Defzenisi Kemukjizatan dan Ketetapan
I’jaz (kemukjizatan) adalah menetapkan kelemahan. Kelemahan menurut pengertian umum ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kemampuan. Apabila kemukjizatan telah terbukti, maka nampaklah kemapuan mu’jiz (sesuatu yang melemahkan). Yang dimaksud dengan i’jaz dalam pembicaraan ini ialah menampakkan kebenaran Nabi dalam pengakuannya sebagai Rasul dengan menampakkan kelemahan orang Arab untuk menghadapi mukjizatnya yang abadi, yaitu al-Qur’an, dan kelemahan generasi-generasi sesudah mereka. Dan mukjizat adalah sesuatu hal yang luar biasa yang disertai tantangan dan selamat dari perlawanan.
Mukjizat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai "kejadian ajaib yang susah dijangkau oleh kemampuan akal manusia "
Kata mukjizat terambil dari bahasa Arab a'jaza yang berarti "melemahkan" atau menjadikan tidak mampu, pelakunya (yang melemahkan) dinamai mukjiz dan apabila kemampuan melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkam lawan, ia dinamai mukjizat. Tambahan (ة) pada akhir kata itu mengandung makna mubalaghah (superlatif). Mukjizat didefenisikan oleh pakar agama Islam, antara lain, sebagai "suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang mengakui Nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu.
Adapun unsur-unsur yang menyertai mukjizat:
1.      Hal atau peristiwa yang luar biasa, yang dimaksud dengan luar biasa adalah sesuatu yang berada diluar jangkauan sebab dan akibat yang diketahui secara umum hukum-hukumnya, dengan demikian hipnotisme atau sihir, walaupun sekilas terlihat ajaib atau luar biasa karena dapat dipelajari ia tidak termasuk dalam pengertian "luar biasa" dalam definisi tersebut.
2.      Terjadi atau dipaparkan oleh seseorang yang mengaku Nabi. Tidak mustahil terjadi hal-hal di luar kebiasaan pada diri siapapun. Namun, apabila bukan dari seseorang yang mengaku Nabi ia tidak dinamai mukjizat. Boleh jadi sesuatu luar biasa tampak pada diri seseorang yang kelak akan bakal menjadi Nabi ini pun tidak dinamai mukjizat, tetapi Irhash.
3.      Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian. Tentu saja tantangan ini harus berbarengan dengan pengakuannya sebagai Nabi.
4.      Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani. Biasanya aspek kemukjizatan masing-masing Nabi adalah hal-hal yang sesuai dengan bidang keahlian umatnya.

Rasulullah meminta orang Arab menandingi al-Qur'an dalam tiga tahapan:
1)      Menantang mereka dengan seluruh al-Qur’an dalam uslub umum yang meliputi orang Arab sendiri dan orang lain, manusia dan jin, dengan tantangan mengalahkan kemampuan mereka secara padu melalui Firman-Nya:“Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu sebagian yang lain.” (al-Isra’ [17]:88)
2)      Menantang mereka dengan sepuluh surah saja dari al-Qur’an, dalam Firman-Nya:“ Ataukah mereka mengatakan: Muhammad telah membuat-buat al-Qur’an itu. Katakanlah : ( jika demikian), maka datangkanlah sepuluh surah yang dibuat yang menyamainya, dan panggilah orang-orang yang sanggup (memanggilah) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu itu, ketahuilah, sesungguhnya al- Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah.” (Hud [11]:13-14).
3)      Menantang mereka dengan satu surah saja dari al-Qur’an, dalam Firman-Nya: “ Atau (patutkah) mereka mengatakan, Muhammad membuat-buatnya. Katakanlah: (kalau benar-benar yang kamu katakan itu), cobalah datangkan sebuah surah seumpamanya.” (Yunus [10]:38). Tantangan ini diulang lagi dalam Firman-Nya:“Dan jika kamu (tetap) dalam keadaan ragu tentang al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), maka buatlah satu surah (saja) yang semisal al-Qur’an itu…” (al-Baqarah [2]:23).
Kelemahan orang Arab untuk menandingi al-Qur’an padahal mereka memiliki faktor-faktor dan potensi untuk itu, merupakan bukti tersendiri bagi kelemahan bahasa Arab di masa bahasa ini berada pada puncak keremajaan dan kejayaannya.


B. Makna Mukjizat Al-Qur'an
Jika kita berkata "Mukjizat al-Qur'an", ini berarti bahwa mukjizat (bukti kebenaran) tersebut adalah mukjizat yang dimiliki atau yang terdapat di dalam al-Qur'an, bukannya bukti kebenaran yang datang dari luar al-Qur'an atau faktor luar.
Dari konteks uraian al-Qur'an, maka yang dimaksud dengan "al-Qur'an" adalah minimal satu surah walau pendek, atau tiga ayat atau satu ayat yang penjang seperti ayat "al-Kursi".
 Dan cara memahami kemukjizatan al-Qur'an adalah : Pertama, kepribadian Nabi Muhammad SAW untuk membuktikan kebenaran seorang Nabi tidak harus melalui mukjizat yang dipaparkannya, tetapi juga dapat dibuktikan dengan mengenal kepribadian, kehidupan keseharian, akhlak, dan budi pekertinya. Kedua, kondisi masyarakat saat turunnya al-Qur'an. al-qur'an menamai masyarakat Arab sebagai masyarakat ummiyyin. walaupun demikian, ini bukan berarti masyarakat Arab yang dijumpai al-Qur'an pertama kali sama sekali tidak mempunyai pengetahuan, bahkan, mereka memiliki pengetahuan antara lain dalam bidang: Astronomi, meteorologi, sedikit tentang umat sekitarnya, pengobatan berdasar dari pengalaman perdukunan dan semacamnya bahasa dan sastra. Ketiga, masa dan cara kehadiran al-Qur'an, konteks pembuktian kemukjizatan al-Qur'an ada dua hal yaitu:
1. Kehadiran wahyu al-Qur'an di luar kehendak Nabi SAW.
2. Kehadirannya secara tiba-tiba.
Kemukjizatan al-Qur’an bagi bangsa-bangsa lain tetap berlaku di sepanjang zaman dan akan selalu ada dalam posisi tantangan yang tegar. Misteri-misteri alam yang disingkap oleh ilmu pengetahuan modern hanyalah sebagian dari fenomena hakikat-hakikat tinggi yang terkandung dalam misteri alam wujud yang merupakan bukti bagi eksistensi Pencipta dan Perencananya. Dan inilah apa yang dikemukakan secara global atau diisyaratkan oleh al-Qur’an. Dengan demikian, al-Qur’an tetap merupakan mukjizat bagi seluruh umat manusia.
Maka dapat disimpulkan dari keterangan tersebut bahwa al-Qur’an itu mukjizat karena ia datang dengan lafaz-lafaz yang paling fasih, dalam susunan yang paling indah dan mengandung makna-makna yang paling valid, sahih, seperti peng-Esa-an Allah, penyucian sifat-sifat-Nya, ajakan taat kepada-Nya, penjelasan cara beribadah kepada-Nya, dengan menerangkan hal yang dihalalkan dan diharamkan, dilarang dan dibolehkan; juga seperti nasihat dan bimbingan, amar ma’ruf, nahi mungkar, serta bimbingan akhlak yang baik dan larangan dari akhlak buruk. Semua hal-hal di atas diletakkannya pada tempatnya masing-masing sehingga tidak tampak ada sesuatu lain yang lebih baik daripadanya, dan tidak bisa dibayangkan dalam imajinasi akal ada sesuatu lain yang lebih pantas daripadanya, Di samping itu, ia juga memuat berita tantang sejarah manusia pada abad-abad silam dan azab yang diturunkan Allah kepada orang-orang durhaka dan menentang-Nya diantara mereka. Juga ia menceritakan tentang realitas-realitas yang akan terjadi jauh sebelum terjadi, mengemukakan secara lengkap argumentasi dan hal yang diberi argumentasi, dalil atau bukti dan hal yang dibuktikannya, agar dengan demikian ia lebih kuat, mantap, dalam menetapkan kewajiban yang diperintahkannya dan larangan yang dicegahnya, sebagaimana diserukan dan diberitakannya.
Jelaslah bahwa mendatangkan hal-hal seperti itu lengkap dengan berbagai ragamnya hingga tersusun rapi dan teratur, merupakan sesuatu yang tidak disanggupi kekuatan manusia dan di luar jangkauan kemampuannya. Dengan demikian, sia-sialah makhluk di hadapannya dan menjadi lemah, tidak mampu, untuk mendatangkan sesuatu yang serupa dengannya.
Adapun mengenai segi atau kadar manakah yang mukjizat itu, maka jika seseorang penyelidik yang objektif dan mencari kebenaran memperhatikan al-Qur’an dari aspek manapun yang ia sukai, segi uslubnya, segi ilmu pengetahuannya, segi pengaruh yang ditimbulkannya di dalam dunia dan wajah sejarah yang diubahnya, atau semua segi tersebut, tentu kemukjizatan itu ia dapatkan dan terang.
Dan sudah sepantasnya bila dibawah ini kami membicarakan tiga macam aspek kemukjizatan al-Qur’an, aspek bahasa, aspek ilmiah dan aspek tasyri’ (penetapan hukum).

C. Kemukjizatan Bahasa
Bahasa yang dikandung oleh al-Qur’an adalah bahasa yang mana orang Arab tidak mampu untuk menandinginya, dan bahasa itu tidak keluar dari aturan-aturan kalam mereka, baik lafaz dan huruf-hurufnya maupun susunan dan uslubnya. Akan tetapi al-Qur’an jalinan huruf-hurufnya serasi, ungkapannya indah, uslubnya manis, ayat-ayatnya teratur, serta memperhatikan situasi dan kondisi dalam berbagai macam bayannya, baik dalam jumlah ismiyah maupun fi’liyah-nya, dalam nafi’ dan isbat-nya, dalam zikr dan hazf-nya, dalam tankir dan ta’rif-nya, dalam taqdim dan ta’khir-nya, dalam itnab dan I’jaz-nya, dalam umum dan khususnya, dalam muthlaq dan muqayyad-nya, dalam nas dan fahwa-nya, maupun dalam hal lainnya. Dalam hal-hal tersebut dan yang serupa al-Qur’an telah mencapai puncak tertinggi yang tidak sanggup kemampuan bahasa manusia untuk menghadapinya.
Setiap manusia memusatkan perhatiannya pada al-Qur’an, ia tentu akan mendapatkan rahasia-rahasia kemukjizatan aspek bahasanya tersebut. Ia dapatkan kemukjizatan itu dalam keteraturan bunyinya yang indah melalui nada huruf-hurufnya ketika ia mendengar harakat dan sukunnya, madd dan ghunnahnya, fasilah dan maqta’nya, sehingga telinga tidak pernah merasa bosan, bahkan ingin senantiasa terus mendengarnya.
Kemukjizatan itu pun dapat ditemukan dalam lafaz-lafaznya yang memenuhi hak setiap makna pada tempatnya. Tidak satupun diantara lafaz-lafaz itu yang dikatakan sebagai kelebihan.
Juga tak ada seseorang peneliti terhadap suatu tempat (dalam al-Qur’an) menyatakan bahwa pada tempat itu perlu ditambahkan sesuatu lafaz karena ada kekurangan.
Orang Arab tidak mempunyai kalam yang mencakup fashahah, gharabah (keanehan), rekayasa yang indah, makna yang halus dan faedah yang berlimpah, hikmah yang meruah, keserasian balagah dan keterampilan bara’ah sebanyak dan dalam kadar seperti itu. Kata-kata hikmah (bijak) mereka hanyalah beberapa kata dan sejumlah lafaz. Dan para penyairnya pun hanya mampu mengubah beberapa buah qasadah. Itupun mengandung kerancuan dan kontradiksi serta pemaksaan dan kekaburan. Sedangkan al-Qur’an, yang sedemikian banyak dan panjang, ke-fasahahannya senantiasa indah dan serasi, sesuai dengan apa yang digambarkan Allah: “ Allah telah menurunkan yang paling baik (yaitu) al- yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah,” (az-Zumar [39]:23), dan: Dan sekiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (an-Nisa’ [4]:82).
Betapa menakjubkan rangkain al-Qur’an dan betapa indah susunannya. Tak ada kontradiksi dan perbedaan di dalamnya, padahal ia membeberkan banyak segi yang dicakupnya, seperti kisah dan nasihat, argumentasi, hikmah dan hukum, tuntunan dan peringatan, janji dan ancaman, kabar gembira dan berita duka, serta akhlak mulia, pekerti tinggi, perilaku baik dan lain sebagainya. Sementara itu kita dapatkan kalam pujangga pentolan, penyair ulung dan orator agitator akan berbeda-beda dan berlainan sesuai dengan hal-hal tersebut. Diantara penyair ada yang hanya pandai memuji tetapi tidak pandai mencaci. Ada yang unggul dalam kelalaian tetapi tidak pandai dalam peringatan. Ada pula yang pandai melukiskan unta dan kuda, memberikan perjalanan malam, menggambarkan peperangan, taman, kamar, senda gurau, cumbuan dan lain-lainnya yang dapat dicakup dalam syair dan dituangkan dalam kalam.

D. Kemukjizatan Ilmiah
Kemukjizatan al-Qur’an bukanlah terletak pada pencakupannya akan teori-teori yang selalu baru dan berubah serta merupakan hasil usaha manusia dalam penelitian dan pengamatan. Tetapi ia terletak pada dorongannya untuk berpikir dan menggunakan akal. Al-Qur’an mendorong manusia agar memperhatikan dan memikirkan alam. Ia tidak mengembiri aktivitas dan kreatifitas akal dalam memikirkan alam semesta, atau menghalanginya dalam penambahan ilmu pengetahuan yang dapat dicapainya. Dan tidak ada sebuah pun dari kitab-kitab agama terdahulu memberikan jaminan demikian seperti yang diberikan oleh al-Qur’an.
Allah berfirman “Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda kekuasasan (kami) kepada orang-orang yang berpikir.” (Yunus [10]:24),
“sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (ar-Ra’d [13]:3),
“Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda kebesaran (kami) kepada kaum yang mengetahui.” (al-A’raf [7]:32),
“Sungguh kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran kami kepada kaum yang mengetahui.” (al-An’am [6]:97), dan masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang hal tersebut.
Demikianlah. Kemukjizatan al-Qur’an secara ilmiah ini terletak pada dorongannya kepada umat islam untuk berpikir disamping membukakan bagi mereka pintu-pintu pengetahuan dan mengajak mereka memasukinya, maju di dalamnya dan menerima segala ilmu pengetahuan baru yang mantap, stabil. Disamping hal-hal diatas di dalam al- terdapat isyarat-isyarat ilmiah yang diungkapkan dalam konteks hidayah. Misalnya, Pada darah yang sempurna terdapat 25 triliyun sel darah merah untuk memindahkan oksigen dan 25 milyar sel darah putih untuk memperbaiki kerusakan dan imunitas tubuh. Di samping itu, terdapat triliyunan saringan darah untuk mencegah pecahnya pembuluh darah kerena adanya pembekuan pada beberapa pembuluh darah. Pada awalnya, sel ini terbentuk pada pangkal tulang yang mengalirkan 2.500.000 sel darah merah dalam satu detik, 5 juta keping dan 110.000 sel darah putih. Semua itu penting untuk menghasilkan elemen-elemen darah yang kemudian tumbuh berlipat ganda. Fungsi ini fluktuatif dan semakin menurun ketika usia seseorang semakin tua. Ayat berikut ini menggambarkan kondisi ketika usia mencapai sekitar 30-50 tahun:
Ia (zakaria) berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban. Aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu, ya Tuhanku. (QS. Maryam: 4).
Allah SWT. Berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ (٢٢)
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi dan perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Ar-Rum: 22).
Kita perhatikan potongan ayat “dan perbedaan bahasa dan warna kulitmu…”. Para pakar berpendapat bahwa pada kulit manusia terdapat sel-sel serangga yang berbentuk seperti serangga. Ujung-ujungnya memanjang benang tipis. Setiap satu inci, jumlah sel ini mencapai 6.000 sel. Tidak ada perbedaan jumlah sel antara kulit putih dan kulit hitam. Sel pada orang kulit putih dan kulit berwarna sama, akan tetapi perbedaan warna tergantung pada ketebalan unsur yang berwarna. Unsur ini dinamakam sebagai melanin. Orang yang berkulit terang dan gelap memiliki perbedaan unsur warna tidak lebih dari satu gram saja. Akan tetapi, Sesuatu yang mengherankan bahwa setiap sel sepuluh tahun sel menurun sekitar 10 – 20%. Oleh karena itu, ada perubahan warna kulit manusia sejalan dengan bertambahnya usia menjadi lebih cerah dan lebih putih. Itu disebabkan oleh terserapnya unsur tersebut kedalam sel serangga yang berada di permukaan kulit dan bertambah jumlahnya dalam setiap inci sekitar 6.000 sel.ini di karenakan ukuran unsur warna ini dibatasi oleh unsur genetik pada gelembung/bulatan sel’ Akan tetapi,
apa hubungan dan penjelasan warna gelap bagi mereka yang tinggal di daerah garis katulistiwa dengan mereka yang tinggal di kutub utara dan selatan yang memiliki kulit terang? Di sinilah letak hikmah Allah kepada makhluk-Nya. Keistimewaan kulit dengan unsur gelap adalah mampu menyerap sinar ultraviolet yang buruk, karena sinar matahari pada daerah katulistiwa sangat panas. Karena itulah penduduk yang tinggal di daerah ini memiliki warna kulit yang gelap.
Segala upaya untuk menghubungkan isyarat-isyarat umum al-Qur’an dengan teori-teori yang selalu baharu dan berubah-ubah yang telah dicapai oleh ilmu pengetahuan, atau bahkan dengan hakikat-hakikat ilmiah itu sendiri yang tidak mutlak sebagaimana telah kita kemukakan, akan mengandung, pertama-tama, kelemahan metodologis yang prinsipil di samping mengandung pula tiga makna yang kesemuanya tidak pantas bagi keagungan al-Qur’an:
Pertama, kekalahan intern yang menyebabkan sebagian orang memandang ilmu pengetahuan sebagai batu uji yang diikuti, sedang al-Qur’an harus mengikuti. Oleh karena itu mereka berusaha memantapkan al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan atau membuktikan kebenarannya berdasarkan ilmu pengetahuan, padahal al-Qur’an adalah kitab suci yang sempurna isinya dan final hakikat-hakikatnya. Sedang ilmu pengetahuan yang sekarang selalu membatalkan apa yang telah ditetapkan kemarin. Segala apa yang yang dicapainya tidak mutlak dan tidak final, karena ia terikat dengan sarana yang berupa manusia, akal dan alatnya yang kesemuanya itu pada hakikatnya tidak memberikan hakikat yang satu, final dan mutlak.
Kedua, kesalahpahaman terhadap watak dan fungsi al-Qur’an adalah sebuah hakikat yang final dan mutlak, menangani pembangunan manusia dengan cara yang sesuai, menurut kadar tabiat manusia yang nisbi, dengan tabiat alam dan hukum ilahinya, sehingga manusia tidak akan berbenturan dengan alam sekelilingnya. Tetapi agar ia sejalan dengan alam dan mengenali sebagian misterinya serta dapat memanfaatkan beberapa hukumnya untuk kekhalifahannya. Hukum-hukum yang di singkapnya melalui pengamatan, penyelidikan, percobaan dan penerapan, sesuai dengan petunjuk akal yang dikaruniakan kepadanya untuk bekerja, bukan hanya menerima pengetahuan-pengetahuan material yang telah siap.
Ketiga, pentakwilan terus- menerus,dengan pemaksaan dan pemerkosaan, terhadap nas-nas al-Qur’an agar dapat dibawa dan diselaraskan dengan asumsi-asumsi dan teori-teori yang tidak tetap dan labil, padahal setiap hari selalu muncul teori baru.

E. Kemukjizatan Tasyri’
Al-Qur’an adalah menyucikan jiwa seorang Muslim dengan akidah tauhid yang menyelamatkannya dari kekuasaan khurafat dan waham, dan memecahkan belenggu perbudakan hawa nafsu dan syahwat, agar ia menjadi hamba Allah yang ikhlas yang hanya tunduk kepada Tuhan, pencipta yang Disembah. Qur’an juga menanamkan rasa tinggi hati kepada selain Dia, sehingga tidak membutuhkan makhluk, melainkan khalik yang mempunyai kesempurnaan mutlak dan memberikan kebaikan kepada seluruh makhluk-Nya. Dialah Khalik Yang Tunggal, Tuhan Yang Esa, Yang Pertama dan Yang Terakhir, Mahakuasa atas segala sesuatu, Mahatau dan Meliputi segalanya, serta tidak ada sesuatu pun serupa dengan-Nya.
Apabila akidah seorang muslim telah benar, maka ia wajib menerima segala syari’at al-Qur’an baik menyangkut kewajiban maupun ibadah. Setiap ibadah yang difardlukan dimaksudkan untuk kebaikan individu, dan disamping itu ibadah pun erat kaitannya dengan kebaikan kelompok ( masyarakat).
Ringkasnya, al-Qur'an merupakan Dustur Tasyri' paripurna yang menegakkan kehidupan manusia di atas dasar konsep yang paling utama. Dan kemukjizatan Tasyri nya ini bersama dengan kemukjizatan ilmiah dan kemukjizatan bahasanya akan senantiasa eksis untuk selamanya dan tidak seorang pun dapat mengingkari bahwa al-Qur'an telah memberikan pengaruh besar yang dapat mengubah wajah sejarah dunia.[18] Hal-hal yang menginspirasi kita untuk berkomitmen dalam-dalam terhadap kehidupan dan menciptakan satu masyarakat yang damai berlandaskan keadilan dan kasih sayang. Kita tidak buta terhadap yang ditemukan oleh rekan-rekan kita; kita hanya sedikit lebih sabar dengan penanda-penanda banyak persoalan dan sedikit lebih yakin terhadap gambaran keseluruhan al-Qur'an tentang penderitaan, ketabahan, perlawanan, dan
pembebasan. Mengenai kepastian absolut al-Quran mempunyai frase yang menarik: "sembahlah tuhanmu hingga kepastian absolut (yakin) mendatangimu. Kebanyakan ulama menafsirkan "yakin" disini dalam arti "kematian".












BAB III
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Pemakalah merasa berkewajiban untuk menggaris bawahi bahwa apa yang terdapat di dalam makalah ini hanyalah sekelumit dari mukjizat al-Qur'an serta keistimewaannya itu pun dari tiga aspek yaitu bahasa, ilmiah, dan tasyri'.
Memang tidak mudah memaparkan segala aspek kemukjizatan dan keistimewaan kitab suci itu lebih-lebih apabila dimaksudkan untuk mengungkap secara utuh dan tuntas segala aspeknya. Al-Ghazali berkata " segala ilmu, yang lalu dan akan datang yang telah punah dan yang akan lahir semuanya dikandung oleh kitab suci al-Qur'an.
Rasulullah SAW yang menerima al-Qur'an dan yang paling tahu tentang kandungannya, melukiskan al-Qur'an sebagai " di dalamnya kabar masa lampau, berita masa akan datang, tidak lekang oleh panas, tidak lapuk oleh hujan, tidak terhenti keajaibannya, dan tidak pula usang oleh banyaknya diskusi tentangnya. "sungguh tepat ilustrasi yang menyatakan bahwa al-Qur'an bagaikan intan yang memancarkan berbagai cahaya, cahaya yang dipandang pada posisi tertentu berbeda dengan cahaya yang dipancarkannya pada posisi yang lain. Bahkan dapat berbeda dan beragam akibat keragaman yang memandang, tetapi kesemuanya dapat dinilai benar dan jitu.
Dari sinilah, kita harus mengakui bahwa kemukjizatan dan keistimewaan al-Qur'an yang dipaparkan oleh siapa pun dan kapan pun belum mencerminkan keseluruhan mukjizat dan keistimewaannya.







DAFTAR PUSTAKA
1.      Ahmad, Yusuf. Ensiklopedi Keajaiban al-Qur'an, Jakarta Pusat, 2009.
2.      Esack, Farid. Samudera al-Qur'an, Jogjakarta, DIVA Press, 2002.
3.      http://mukjizatal-quran.blogspot.com
4.      Qattan, Manna khalil. terjemahan Studi Ilmu-Ilmu al-Quran, Bogor: Litera Antarnusa, 2009.
5.      Shihab, M. Quraish. Mukjizat al-Qur'an, Bandung, PT Mizan Pustaka, 2007.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar