PENDIDIKAN ISLAM
Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah
Filsafat Pendidikan Islam
Oleh :
|
Nama
|
Mulyadi
|
|
Nim
|
13160026
|
Dosen Pengampu :
DR. Miftahul Ulum, M.Ag
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
Islam sangat
mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas,
individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan
kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun institusi-institusi
pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi
tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi
dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan
dalam tujuan institusi pendidikan.
Penekanan
kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan,
spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi sebaliknya yang
terjadi. Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri
bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk
melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan
materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan
dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. Gelar dianggap
sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang
selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini
sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang
tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai
individu-individu yang beradab. Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan
ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang
sekular.
Dalam budaya
Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan
kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni
pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim
memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum
menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara
tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta akhlak
kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang
pragmatis. Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan
integratif dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata
menghasilkan para anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis.
Dalam makalah
ini penulis berusaha menggali dan mendeskripsikan tujuan dan sasaran pedidikan
dalam Islam secara induktif dengan melihat dalil-dalil naqli yang sudah ada
dalam al-Qur’an maupun al-Hadits, juga memadukannya dalam konteks kebutuhan
dari masyarakat secara umum dalam pendidikan, sehingga diharapkan tujuan dan
sasaran pendidikan dalam Islam dapat diaplikasikan pada wacana dan realita
kekinian.
Memang tidak
diragukan bahwa ide mengenai prinsip-prinsip dasar pendidikan banyak tertuang
dalam ayat-ayat al Qur’an dan hadits nabi. Dalam hal ini akan dikemukakan ayat
ayat atau hadits hadits yang dapat mewakili dan mengandung ide tentang prinsip
prinsip dasar tersebut, dengan asumsi dasar, seperti dikatakan an Nahlawi bahwa
pendidikan sejati atau maha pendidikan itu adalah Allah yang telah menciptakan
fitrah manusia dengan segala potensi dan kelebihan serta menetapkan hukum hukum
pertumbuhan, perkembangan, dan interaksinya, sekaligus jalan yang harus
ditempuh untuk mencapai tujuannya. Prinsip prinsip tersebut adalah sebagai
berikut:[1]
Pertama, Prinsip Integrasi. Suatu prinsip yang seharusnya dianut
adalah bahwa dunia ini merupakan jembatan menuju kampung akhirat. Karena itu,
mempersiapkan diri secara utuh merupakan hal yang tidak dapat dielakkan agar
masa kehidupan di dunia ini benar benar bermanfaat untuk bekal yang akan dibawa
ke akhirat. Perilaku yang terdidik dan nikmat Tuhan apapun yang didapat dalam
kehidupan harus diabdikan untuk mencapai kelayakan kelayakan itu terutama
dengan mematuhi keinginan Tuhan. Allah Swt Berfirman, “Dan carilah pada apa
yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampung akhirat, dan
janganlah kanu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan duniawi...” (QS. Al
Qoshosh: 77). Ayat ini menunjukkan kepada prinsip integritas di mana diri dan
segala yang ada padanya dikembangkan pada satu arah, yakni kebajikan dalam
rangka pengabdian kepada Tuhan.
Kedua, Prinsip Keseimbangan. Karena ada prinsip integrasi,
prinsip keseimbangan merupakan kemestian, sehingga dalam pengembangan dan
pembinaan manusia tidak ada kepincangan dan kesenjangan. Keseimbangan antara
material dan spiritual, unsur jasmani dan rohani. Pada banyak ayat al-Qur’an
Allah menyebutkan iman dan amal secara bersamaan. Tidak kurang dari enam puluh
tujuh ayat yang menyebutkan iman dan amal secara besamaan, secara implisit
menggambarkan kesatuan yang tidak terpisahkan. Diantaranya adalah QS. Al ‘Ashr:
1-3, “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian kecuali mereka yang
beriman dan beramal sholeh.” .
Ketiga, Prinsip Persamaan. Prinsip ini berakar dari konsep dasar
tentang manusia yang mempunyai kesatuan asal yang tidak membedakan derajat,
baik antara jenis kelamin, kedudukan sosial, bangsa, maupun suku, ras, atau
warna kulit. Sehingga budak sekalipun mendapatkan hak yang sama dalam
pendidikan. Nabi Muhammad Saw bersabda
“Siapapun di antara seorang laki laki yang mempunyai
seorang budak perempuan, lalu diajar dan didiknya dengan ilmu dan pendidikan
yang baik kemudian dimerdekakannya lalu dikawininya, maka (laki laki) itu
mendapat dua pahala” (HR. Bukhori).
Keempat, Prinsip Pendidikan Seumur Hidup. Sesungguhnya prinsip ini
bersumber dari pandangan mengenai kebutuhan dasar manusia dalam kaitan
keterbatasan manusia di mana manusia dalam sepanjang hidupnya dihadapkan pada
berbagai tantangan dan godaan yang dapat menjerumuskandirinya sendiri ke jurang
kehinaan. Dalam hal ini dituntut kedewasaan manusia berupa kemampuan untuk
mengakui dan menyesali kesalahan dan kejahatan yang dilakukan, disamping selalu
memperbaiki kualitas dirinya. Sebagaimana firman Allah, “Maka siapa yang
bertaubat sesuadah kedzaliman dan memperbaiki (dirinya) maka Allah menerima
taubatnya....” (QS. Al Maidah: 39).
Kelima, Prinsip Keutamaan. Dengan prinsip ini ditegaskan bahwa
pendidikan bukanlah hanya proses mekanik melainkan merupakan proses yang
mempunyai ruh dimana segala kegiatannya diwarnai dan ditujukan kepada
keutamaan-keutamaan. Keutamaan-keutamaan tersebut terdiri dari nilai nilai
moral. Nilai moral yang paling tinggi adalah tauhid. Sedangkan nilai moral yang
paling buruk dan rendah adalah syirik. Dengan prinsip keutamaan ini, pendidik
bukan hanya bertugas menyediakan kondisi belajar bagi subjek didik, tetapi
lebih dari itu turut membentuk kepribadiannya dengan perlakuan dan keteladanan
yang ditunjukkan oleh pendidik tersebut. Nabi Saw bersabda, “Hargailah anak
anakmu dan baikkanlah budi pekerti mereka,” (HR. Nasa’i).
Mengenai mekanisme
dalam menjalankan pendidikan Islam Dalam karyanya Tahdzibul Akhlak, Ibnu
Miskawaih mengatakan bahwa syariat agama memiliki peran penting dalam
meluruskan akhlak remaja, yang membiasakan mereka untuk melakukan perbuatan
yang baik, sekaligus mempersiapkan diri mereka untuk menerima kearifan,
mengupayakan kebajikan dan mencapai kebahagiaan melalui berpikir dan penalaran
yang akurat. Orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik mereka agar mentaati
syariat ini, agar berbuat baik. Hal ini dapat dijalankan melalui al-mau’izhah
(nasehat), al- dharb (dipukul) kalau perlu, al-taubikh
(dihardik), diberi janji yang menyenangkan atau tahdzir (diancam)
dengan al-‘uqubah (hukuman).[2]
(konsep uqubah dalam Islam)
Akan tetapi,
Berbeda dengan beberapa pandangan teori di atas, Ibnu Khaldun justru
berpandangan sebaliknya. Ia mengatakan bahwa kekerasan dalam bentuk apapun
seharusnya tidak dilakukan dalam dunia pendidikan. Karena dalam pandangan Ibnu
Khaldun, penggunaan kekerasan dalam pengajaran dapat membahayakan anak didik,
apalagi pada anak kecil, kekerasan merupakan bagian dari sifat-sifat buruk.
Disamping itu, Ia juga menambahkan bahwa perbuatan yang lahir dari hukuman tidak
murni berasal dari keinginan dan kesadaran anak didik. Itu artinya pendidikan
dengan metode ini juga sekaligus akan membiasakan seseorang untuk berbohong dikarenakan takut dengan hukuman.[3]
BAB II
TUJUAN PENDIDIKAN
SURAT KE-3 (QS.
ALI IMRAN: 137-139)
\s% ôMn=yz `ÏB öNä3Î=ö6s% ×ûsöß (#rç�Å¡sù Îû ÇÚöF{$# (#rã�ÝàR$$sù y#øx. tb%x. èpt6É)»tã tûüÎ/Éjs3ßJø9$# ÇÊÌÐÈ #x»yd ×b$ut/ Ĩ$¨Y=Ïj9 Yèdur ×psàÏãöqtBur úüÉ)GßJù=Ïj9 ÇÊÌÑÈ wur (#qãZÎgs? wur (#qçRtøtrB ãNçFRr&ur tböqn=ôãF{$# bÎ) OçGYä. tûüÏZÏB÷sB ÇÊÌÒÈ
Sesungguhnya
Telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah[4]; Karena itu
berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang
yang mendustakan (rasul-rasul). (Al
Quran) Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran
bagi orang-orang yang bertakwa. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah
(pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi
(derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 137-139)
Pertama-tama mengenai sunnah Allah,
yang dalam ayat 137 ini digambarkan sebagai suatu kausalitas (hukum sebab
akibat) bagi orang yang mendustakan para rasul. Arti mendustakan disini
bukannya berdusta kepada para rasul, tetapi menganggap para rasul itu berdusta
termasuk berdusta tentang semua ajaran yang disampaikannya atau wahyu yang
diturunkan kepadanya. Artinya mereka itu tidak beriman atau percaya kepada
ajaran agama yang disampaikan para rasul itu. Ayat ini juga menyiratkan bahwa
jejak-jejak langkah orang atau kaum yang mendustakan agama itu banyak
bertebaran di muka bumi dan manusia dengan mudah bisa mengamatinya, dengan
berjalan dimuka bumi dengan kakinya atau dengan akalnya (secara intelektual).
Maksud mendustakan disini tidak
sekedar menganggap semuanya itu dusta secara verbal atau lughawy/
bahasa, tetapi juga dusta amaliah atau prakteknya. Oleh sebab itu mendustakan
agama dalam bentuk amal ini adalah tidak mengusahakan agar dampak syariah dari
ajaran-ajaran agama itu dapat tercapai, sebagaimana dicuplikkan dalam potongan
kalimat pada ayat [107.1] Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
[107.2] Itulah orang yang menghardik anak yafim, [107.3] dan tidak menganjurkan
memberi makan orang miskin. Jadi pengertian mendustakan agama itu sangat
lebih luas daripada sekedar menganggap dusta dan tidak mengimani apa yang
disampaikan para rasul itu. Al-Qur'an itu adalah juga bayan atau acuan/
referensi jika ingin mendapatkan data, informasi (termasuk informasi ilmu
pengetahuan dan teknologi), atau malahan penjelasan yang terperinci (tafshiel)
tentang segala sesuatu. [16:89]. (Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami.
bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri,
dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan
Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur 'an) untuk menjelaskan segala sesuatu
dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri
Kata tafshiel yang juga
digunakan dalam ayat (7:145) dan banyak ayat-ayat lainnya, ini secara
etimologis berasal dari kata fashshala-yufashshilu-tafshielan yang
artinya menguraikan, menganalisa, menjelaskan secara terperinci. Jadi
penjelasan secara terperinci pun ada dalam AI-Qur'an terutama yang berkaitan
dengan ayat-ayat kauniah. Begitu pula halnya dengan kisah yang bersejarah dan
aturan-aturan pernikahan, hukum waris dlsb aturan terperinci yang bermanfaat
bagi manusia selain untuk ummat Islam.
Al-Qur'an berisikan hal yang
terperinci, apakah mungkin segala sesuatu dapat dijejalkan dalam Al-Qur'an yang
hanya 6 ribuan ayat ? Walaupun AI-Qur'an tibyan untuk segala sesuatu,
tapi tak semua dijelaskan AI-Qur'an secara terperinci. Kebanyakan bahkan hanya
dikedipkan dalam cuplikan, tetesan atau kilatan isyarat ilmiah. Isyarat ilmiah
itu hanya bisa dijadikan informasi setelah melalui proses decoding(dekodifikasi)
atau sandi-sandinya dipecahkan atau diuraikan melalui kegiatan penelitian dan
pengembangan yang melibatkan proses rasionalisme (logika dan teori ilmiah) dan
empirisme melalui pengamatan dan pengukuran dll pengumpulan data. Sebagai
contoh ada suatu data numerik berupa angka yang jelas-jelas besarnya yaitu
limapuluh ribu (50.000). [70.4]. Malaikat-malaikat dan Jibril naik
(menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
Hanya beberapa temuan ilmiah yang
terkait dengan sejarah bumi dll yang tegas-tegas kelihatan relevansinya dengan
Al-Ma'arij : 4 ini. Angka ini mungkin merupakan angka atau bilangan kunci dalam
menentukan ukuran alam semesta ini, lnilah yang harus dicari jawabannya oleh
para ahli. Angka, ini bukan data berbentuk bilangan satu-satunya yang ada dalam
AI-Quran, bilangan tujuh juga belum sepenuhnya dapat menjelaskan potongan ayat
: " tujuh langit", belum dapat dikoherenkan dengan kesimpulan ilmiah
bahwa alam semesta ini mempunyai tujuh lapisan karena kontradiksi dengan
peristiwa transendental : Isra dan Mi'raj.
Jadi masih sangat banyak bayan
atau tibyan dalam AI-Qur'an yang belum terpecahkan oleh ilmu pengetahuan
manusia.
SURAT KE-3 (QS. AL-HAJR: 38-41)
4n<Î) ÏQöqt ÏMø%uqø9$# ÏQqè=÷èyJø9$# ÇÌÑÈ tA$s% Éb>u !$oÿÏ3 ÏZoK÷uqøîr& £`uZÎiy_{ öNßgs9 Îû ÇÚöF{$# öNåk¨]tÈqøî_{ur tûüÏèuHødr& ÇÌÒÈ wÎ) y$t6Ïã ãNåk÷]ÏB úüÅÁn=øÜßJø9$# ÇÍÉÈ tA$s% #x»yd îÞºuÅÀ ¥n?tã íOÉ)tGó¡ãB ÇÍÊÈ
Sampai hari (suatu) waktu yang Telah
ditentukan.[5]
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau Telah memutuskan bahwa Aku
sesat, pasti Aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di
muka bumi, dan pasti Aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba
Engkau yang mukhlis[6]
di antara mereka". Allah berfirman: "Ini adalah jalan yang lurus,
kewajiban Aku-lah (menjaganya).[7](QS.
Al-Hajr: 38-41)
Dalam pasal ini ada beberapa faktor
paling signifikan yang membuat manusia tersesat, di antaranya:
- Bujuk rayu syetan.
- Insiparasi yang datang dari nafsu ammaarah.
- Godaan hawa nafsu.
Ketiga hal tersebut merupakan sumber
kejahatan dan fitnah serta sumber kesesatan dan kerusakan pada masa-masa
kritis.
- Bujuk rayu syetan
Allah SWT berfirman (artinya), Iblis berkata: "Beri
tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman:
"Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh." Iblis
menjawab: "Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar
akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya
akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari
kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur
(taat)," (Al-A'raaf: 14-17).
Sebagaimana
bunyi ayat di atas
Berkata Iblis: "Ya Tuhanku!, (kalau begitu) Maka beri
tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan." Allah berfirman:
"(Kalau begitu) Maka Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi
tangguh, sampai hari waktu yang Telah ditentukan." Iblis berkata: "Ya
Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa Aku sesat, pasti Aku akan
menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti
Aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis
di antara mereka," (Al-Hijr:
36-40).
1. Trik melepaskan diri dari godaan dan penyesatan syetan
- Menjadikan syetan sebagai musuh. Sebagaimana dalam firman Allah:
"Sesungguhnya syetan itu adalah
musuh bagi kalian, Maka jadikanlah ia musuh (kalian), karena sesungguhnya syetan-syetan
itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang
menyala-nyala," (Fathir:
6).
- Mengikuti rambu-rambu yang telah ditentukan oleh Allah dan berjalan di atas jalan yang lurus. Firman Allah SWT:
"Bukankah Aku telah memerintahkan
kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya
syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu", dan hendaklah kamu
menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus," (Yaasiin: 60-61).
"Dan sesungguhnya (yang Kami
perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah
kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai
beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu
bertakwa,"
(Al-An'am: 153).
- Berusaha menjadi seorang mukmin yang bertawakkal dan memohon perlindungan kepada Allah. Firman Allah SWT, "Apabila kamu membaca Al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk. Sesungguhnya syetan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhan-nya. Sesungguhnya kekuasaannya (syetan) hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya sebagai wali-wali mereka dan atas orang-orang yang mempersekutukan dengan Allah," (An-Nahl: 98-100).
- Senantiasa bersungguh-sungguh menjadi orang yang mengingat Allah, melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Firman Allah SWT:
"Barangsiapa yang berpaling
dari mengingat Allah yang Maha Pemurah (Al-Quran), maka akan Kami datangkan
baginya syetan (yang menyesatkan), maka syetan Itulah yang menjadi teman yang
selalu menyertainya. Dan Sesungguhnya syetan-syetan itu benar-benar menghalangi
mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat
petunjuk,"
(Az-Zukhruf: 36-37).
- Senantiasa menumbuhkan ketakwaan kepada Allah dan muraqobah kepada-Nya. Firman Allah SWT:
"Sesungguhnya orang-orang yang
bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah,
maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya," (Al-A'raf: 201).
- Selalu mengingat, dan sadar setelah dilupakan oleh syetan, menjauhkan diri dari orang-orang yang sesat supaya keimanannya kembali dan selalu berada bersama orang-orang yang bertakwa dan beriman. Firman Allah SWT:
"Dan apabila kamu melihat
orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka
sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syetan menjadikan
kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang
yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)," (Al-An'aam: 68).
- Insipirasi Yang datang dari Nafsu Ammarah
Ketika Allah menciptakan jiwa
manusia, Ia telah mengiringkan padanya dua kecenderungan, kecenderungan
terhadap hal-hal yang baik dan kecenderungan kepada hal-hal yang buruk.
Jika manusia menghiasi dengan akhlak-akhlak
terpuji, memuliakan dengan amal shaleh, dan memperbaikinya dengan ilmu dan
pengajaran maka jiwa tersebut akan tumbuh di atas pondasi kecenderungan untuk
mengikuti petunjuk dan kebaikan.
Adapun jika manusia mengabaikan
jiwanya dan meninggalkannya tanpa perhatian sama sekali, sehingga karat
jahliyiyah akan menggerogotinya, penyakit kawan-kawan jahat menutupinya, dan
lingkungan yang rusak, maka sesungguhnya jiwanya akan tumbuh di atas
kecenderungan kuatu untuk berbuat jahat, membuat kerusakan dan melenceng dari
jalan yang benar.
Kecenderungan-kecenderungan ini,
yang baik ataupun yang buruk pada jiwa manusia, telah dijelaskan oleh Al-Qur’an
dan As-Sunnah.
Allah SWT berfirman, “Dan jiwa
serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang
mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
(Asy-Syams: 7-10).
Rasulullah saw. bersabda (artinya), “Setiap
bayi yang dilahirkan itu menurut fitrahnya, kedua orang tuanyalah yang
menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi.” (HR Bukhari).
Imam Al-Ghazali rhm dalam kitabnya Ihya
'Ulumiddin menegaskan makna hadits di atas, yakni perihal kecenderungan dan
kesiapan jiwa manusia untuk mengikuti kebaikan atau keburukan dan kesiapannya
untuk istiqamah atau melenceng, beliau mengatakan, "Anak itu adalah amanah
yang ada di pundak kedua orang tua, hatinya bersih sebersih batu permata mulia,
dan jika ia dibinasakan berbuat jahat dan tak dipedulikan layaknya binatang
ternak, maka ia akan celaka dan binasa. Adapun cara menjaganya adalah dengan
mendidiknya, mengajarinya dan menuntunnya dengan akhlak-akhlak yang
terpuji."
Jiwa manusia itu menurut pandangan
Al-Qur'an ada tiga macam:
- Nafsul amarah bis suu', yaitu jiwa yang selalu memerintahkan kepada hal-hal yang buruk.
- Nafsul Lawwamah, yaitu yang selalu menyesali diri sendiri.
- Nafsul Muthma'innah, yaitu yang penuh dengan ketenangan.
Adapun penjelasannya adalah sebagai
berikut:
- Nafsul Ammaarah bis Suu' Allah SWT berfirman, "Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang,"(Yusuf: 53).
- Nafsul Lawwamah Allah SWT berfirman, "Aku bersumpah demi hari kiamat, Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri),"(Al-Qiyamah: 1-2).
Mujahid menafsirkan ayat di atas,
"Ia adalah jiwa yang menyesali dirinya sendiri atas kejahatan atas kejahatan
mengapa ia lakukan dan menyesali kebaikan, mengapa ia tidak banyak
mengerjakannya. Dan ia senantiasa menyesali meski telah bersungguh-sungguh
dalam melakukan keta'atan."
Al-Farra' berkata, "Tiada jiwa
yang baik ataupun yang fajir itu melainkan ia menyesali dirinya, jika ia
mengerjakan kebaikan, ia mengatakan, 'Mengapa engkau tidak menambahnya lebih
banyak?' Dan jika ia melakukan perbuatan buruk, ia mengatakan, 'Duhai kiranya
aku tidak mengerjakannya!' Jadi bisa dikata bahwa ia merupakan sanjungan bagi jiwa."
- Nafsul Muthma'innah
Allah SWT berfirman, "Hai
jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke
dalam syurga-Ku," (Al-Fajr: 27-30).
Nafsul mutma'innah adalah jiwa yang
teguh dan mantap dalam keimanan, taqwa, dan Islam. Ia merupakan jiwa yang
paling atas kedudukan dan tingkatannya, paling tinggi kemuliaan serta
kesuciannya dibandingkan dengan dua jiwa sebelumnya. Ia memiliki berbagai
keistimewaan: teguh keimanannya, mantap keyakinannya, senantiasa dalam
ketaatan, dan istiqamah dalam menempuh jalan Islam.
Adapun sikap dan solusi bagi orang
yang diuji bagi orang yang diuji dengan jiwa yang senantiasa mengajak berbuat
buruk adalah hendaknya ia mengetahui bahwa ketika Allah meletakkan pada jiwa
manusia dan kecenderungan tersebut. Allah menjadikan pula di dalamnya:
kebebasan untuk memilih, kekuatan iradah, akal budi, dan fitrah yang bersih.
Dengannya memungkinkan bagi jiwa tersebut untuk memenangkan kecenderungan yang
baik atas kecenderungan yang buruk, mendorongnya untuk melangkah di atas jalan
yang lurus dan menjauhkan dari jalan maksiat dan kefasikan.
Selain itu, Allah tidak membiarkan
manusia berjalan tanpa petunjuk dan terpuruk dalam hawa nafsu, akan tetapi
Allah menjelaskan padanya jalan dan menerangkan cara untuk menempuh kehidupan
di atas petujuk, akal sehat, dan jalan yang lurus.
Mengenai kebebasan memilih, Allah
telah terangkan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya
jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada yang kafir,” (Al-Insaan: 3).
Adapun mengenai kekutan irodah
(kemauan), Allah SWT berfirman, “Dan adapun orang yang takut kepada
kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka
sesungguhnya Jannahlah tempat tinggalnya,” (An-Naazi’aat: 40-41).
Sementara mengenai akal, Allah
berfirman, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan
sundau gurau belaka. Dan sungguh kampung akherat itu lebih baik bagi
orang-orang yang bertakwa. Maka apakah kalian tidak memikirkannya?”
(Al-An’aam: 32).
Sedangkan mengenai fitrah Allah yang
diberikan pada jiwa, Allah berfirman, “…(tetaplah atas) fitrah Allah yang
telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah
Allah…,” (Ar-Ruum: 30)
Adapun mengenai jalan yang telah
Allah jelaskan, Allah berfirman, “Dan telah kami turunkan kepadamu Al-Kitab
(Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk serta rahmat
dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri,” (An-Nahl: 89).
Selain itu, Allah akan memudahkan
bagi manusia untuk menjalankan syari’at. Allah berfirman, “…Allah
menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagi
kalian…,” (Al-Baqarah: 185).
Dengan solusi-solusi dan sikap-sikap
tersebut, jiwa manusia menjadi sempurna. Sehingga ia cepat berpindah dari
nafsul lawwamah menjadi nafsul muthma’innah.
Demikianlah jiwa manusia kembali
kepada kemuliaannya jika ia mau membersihkan fitrah, mengokohkan iman,
mengikuti manhaj (rabbani), berpegang teguh pada batas-batas syari’at
Allah, berjihad fisabilillah dan meninggikan kalimat-Nya.
- Godaan Hawa Nafsu
Yang dimaksud dengan al-hawa
al-mutabba’ (hawa nafsu yang diikuti) adalah yang tercela, baik menurut
pandangan syar’i maupun akal.
Apabila diperhatikan dengan seksama
ayat-ayat Allah yang jelas, hadits-hadits Nabi saw. dan perkataan kaum salaf,
niscaya kita dapati bahwa ketiga-tiganya sangat mencela hawa nafsu.
Di antara ayat-ayat Allah yang
mencela hawa nafsu adalah firman Allah SWT, “Maka pernahkan kamu melihat
orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan-nya dan Allah membiarkannya
sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan
hatinya dan meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan
memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya tersesat)? Maka mengapa kalian
tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jaatsyiah: 23).
“Andaikan kebenaran itu mengikuti
hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di
dalamnya,”
(Al-Mukminuun: 71).
Dan ayat-ayat lain yang senada cukup
banyak jumlahnya.
Adapun dalam hadits, Imam Ahmad,
Ibnu Majah, dan al-Hakim telah meriwayatkan dari Nabi saw., beliau bersabda, “Orang
yang terhormat itu adalah orang yang menundukkan dirinya dan beramal untuk
bekal setelah mati, dan orang yang fajir itu adalah seseorang yang dirinya
memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-berangan memperoleh balasan yang baik
dari Allah.”
Dari Abu Umamah berkata, “Aku pernah
mendengar Nabi saw. bersabda, ‘Tiada sesuatu di bawah langit ini yang
dipertuhankan oleh manusia yang paling dibenci oleh Allah selain daripada hawa
nafsu.”
Adapun di antara ucapan para salaf,
sebagaimana yang diucapkan oleh sahabat Ibnu Abbas r.a., ia berkata, “Tiadalah
Allah menyebut kata hawa nafsu di dalam Al-Qur’an melainkan pasti mencelanya.”
Sahal at-Tsauri berkata, “Hawa
nafsumu adalah penyakitmu, jika engkau melawannya, maka ia jadi obatmu.”
Al-Isybaily az-Zahid berkata,
“Lawanlah hawa nafsumu dan tentanglah, karena sesungguhnya orang yang mematuhi
hawa nafsunya, maka ia akan dilepaskan oleh hawa nafsunya sejahat-jahat
pelepasan. Barang siapa yang mematuhi jiwa yang keras kepala maka ia akan
melemparkannya ke jurang kebinasaan.”
Dan perkataan para salaf yang senada
masih cukup banyak dan tak mungkin disebutkan satu persatu.
Solusi dan Langkah Yang Harus
Diambil Untuk Membebaskan Diri Dari Hawa Nafsu
- Memperdalam iman.
Yaitu dengan menyakini dari dalam
kalbu dan perasaannya bahwa Allah senantiasa menyertainya, mendengarnya,
melihatnya, mengetahui apa yang ia nampakkan dan apa yang ia sembunyikan. Allah
berfirman, “…tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia-lah
yang keempatnya. Dan tiada pembicaraan antara lima orang melainkan Dia-lah yang
keenamnya. Dan tiada pula pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau
lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada,”
(Al-Mujaadilah: 7).
- Mengisi waktu luang dengan sesuatu yang bermanfaat.
Nabi saw. bersabda, “…tamaklah
terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah
dan jangan lemah…” (HR Muslim).
- Bergaul dengang orang-orang shaleh.
Nabi saw. bersabda, “Seorang itu
mengikuti agama teman karibnya, maka hendaklah seseorang di antara kailan
melihat kepada siapa dia berteman karib,” (HR Tirmidzi).
Demikianlah kiat melepaskan diri
dari godaan syetan yang menyesatkan dan memohonlah pertolongan kepada Allah
untuk melakukannya.
Sumber: Diringkas dari kitab Asy-Syabab
al-Muslimu Fii Muwaajahati at-Tahaddiyaati, atau Aktivis Islam
Menghadapi Tantangan Global, karya: Dr. Abdullah Nashih 'Ulwan, terj. Abu
Abu Abida al-Qudsi (Pustaka Al 'Alaq, 2003), hlm. 19-38.
SURAT
KE-3 (QS. AT-TAUBAH: 51)
@è% `©9 !$uZu;ÅÁã wÎ) $tB |=tF2 ª!$# $uZs9 uqèd $uZ9s9öqtB 4 n?tãur «!$# È@2uqtGuù=sù cqãZÏB÷sßJø9$# ÇÎÊÈ
Artinya:
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami
melainkan apa yang Telah ditetapkan Allah untuk kami. dialah pelindung kami,
dan Hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal."(QS.
At-Taubah: 51)
Seorang Muslim yang mempunyai
kenyakinan yang kokoh terhadap Allah SWT akan selalu berani dan teguh prinsip.
Dia sangat yakin, segala sesuatu yang datang padanya adalah atas kuasa-Nya,
seperti firman Allah dalam Alquran surat At Taubah (9) ayat 51, ''Sekali-kali
tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi
kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang beriman
harus bertawakal.'' Karenanya, tak ada satu alasan pun yang membuatnya takut
menjalani hidup.
Imam Al Qurthubi menjelaskan dalam
tafsirnya tentang surat At Taubah ayat 51 itu, bahwa ketetapan Allah SWT itu
ada di Lauhul Mahfuzh. Juga dikatakan bahwa apa yang Allah SWT kabarkan kepada
kita ada di dalam ketetapan-Nya (Lauhul Mahfuzh), baik kita akan mendapatkan
kemenangan, dan kemenangan itu baik buat kita, maupun kita bakal terbunuh, dan
mati syahid itu jauh lebih baik bagi kita. Segala sesuatunya ada ketentuan
Allah di dalamnya.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya
menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah SWT memberikan petunjuk kepada
Rasulullah SAW cara menjawab pernyataan musuh-musuh kaum Muslimin. Yaitu, untuk
mengatakan kepada mereka: ''Tidak akan menimpa kepada kami kecuali apa yang
Allah tetapkan buat kami. Kami di bawah kehendak dan ketentuan Allah. Dialah
pemimpin dan pelindung kami. Dan kami pasrah diri kepada-Nya. Cukuplah Dia
menjadi penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.''
Umar bin Al Khathab adalah salah
satu contoh Muslim yang memutus urat rasa takutnya dan hanya merendahkan diri
di hadapan Allah SWT. Ibnu Asakir menceritakan, setiap orang yang berhijrah
tentu melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, kecuali Umar bin Al Khathab.
Ketika hendak hijrah, dia menghunus pedangnya, menyandang busurnya, dan
memegang anak panahnya, lalu dia pergi ke Ka'bah.
Pada saat itu para pemuka Quraisy
sedang berada di serambi Ka'bah. Umar melakukan thawaf mengelilingi Ka'bah
tujuh kali lalu mendirikan shalat dua rakaat di dekat Maqam. Kemudian, dia
mendekati para pemuka Quraisy yang membentuk beberapa gerombol. Dia berkata
''Siapa yang ingin ibunya mati nelangsa, anaknya menjadi yatim, dan istrinya
menjadi janda, maka silakan menghadangku di balik lembah ini, tapi dengan
syarat tak seorang pun yang menyertainya.'' Sudah saatnya kaum Muslim belajar
dari keberanian pada pendahulunya. Wallahu a'lam bish-shawab.
Tujuan Pendidikan
Sebagaimana
ayat-ayat di atas adalah Salah satu aspek penting dan mendasar dalam pendidikan
adalah aspek tujuan. Merumuskan tujuan pendidikan merupakan syarat mutlak dalam
mendefiniskan pendidikan itu sendiri yang paling tidak didasarkan atas konsep
dasar mengenai manusia, alam, dan ilmu serta dengan pertimbangan prinsip prinsip
dasarnya. Hal tersebut disebabkan pendidikan adalah upaya yang paling utama,
bahkan satu satunya untuk membentuk manusia menurut apa yang dikehendakinya.
Karena itu menurut para ahli pendidikan, tujuan pendidikan pada hakekatnya
merupakan rumusan-rumusan dari berbagai harapan ataupun keinginan manusia.[8]
Dan
harapan-harapan itu juga akan cepat tercapai apabila kita menjalankan apa yang
telah diperintahkan oleh Allah swt, sebagaimana ayat-ayat diatas yaitu
1. Memperdalam ilmu dan iman dengan memperhatikan sunah-sunah
Allah swt. sebagaimana surat Ali Imran 137-139.
2. Mengisi waktu luang dengan sesuatu yang bermanfaat.
3. Bergaul dengan orang-orang shaleh.
4. Setelah berikhtiar dan berdo’a baru lah kita berserah diri
atau bertawakal.
Maka dari itu
berdasarkan definisinya, Rupert C. Lodge dalam philosophy of education
menyatakan bahwa dalam pengertian yang luas pendidikan itu menyangkut seluruh
pengalaman. Sehingga dengan kata lain, kehidupan adalah pendidikan dan
pendidikan adalah kehidupan itu. Sedangkan Joe Pack merumuskan pendidikan
sebagai “the art or process of imparting or acquiring knomledge and habit
through instructional as study”. Dalam definisi ini tekanan kegiatan
pendidikan diletakkan pada pengajaran (instruction), sedangkan segi kepribadian
yang dibina adalah aspek kognitif dan kebiasaan. Theodore Meyer Greene
mengajukan definisi pendidikan yang sangat umum. Menurutnya pendidikan adalah
usaha manusia untuk menyiapkan dirinya untuk suatu kehidupan yang bermakna.
Alfred North Whitehead menyusun definisi pendidikan yang menekankan segi
ketrampilan menggunakan pengetahuan.[9]
Untuk itu,
pengertian pendidikan secara umum, yang kemudian dihubungkan dengan Islam
-sebagai suatu sistem keagamaan- menimbulkan pengertian pengertian baru yang
secara implisit menjelaskan karakteristik karakteristik yang dimilikinya.
Pengertian pendidikan dengan seluruh totalitasnya, dalam konteks Islam inheren
salam konotasi istilah “tarbiyah”, “ta’lim” dan “ta’dib”
yang harus dipahami secara bersama-sama. Ketiga istilah itu mengandung makna
yang amat dalam menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam
hubungannya dengan Tuhan saling berkaitan satu sama lain. Istilah istilah itu
sekaligus menjelaskan ruang lingkup pendidikan Islam; informal, formal, dan
nonformal.[10]
Ghozali
melukiskan tujuan pendidikan sesuai dengan pandangan hidupnya dan nilai-nilai
yang terkandung di dalamnya, yaitu sesuai dengan filsafatnya, yakni memberi
petunjuk akhlak dan pembersihan jiwa dengan maksud di balik itu membentuk
individu-individu yang tertandai dengan sifat-sifat utama dan takwa. Dengan ini
pula keutamaan itu akan merata dalam masyarakat.[11]
Hujair AH.
Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan Islam dengan visi dan misi pendidikan
Islam. Menurutnya sebenarnya pendidikan Islam telah memiki visi dan misi yang
ideal, yaitu “Rohmatan Lil ‘Alamin”. Selain itu, sebenarnya konsep dasar
filosofis pendidikan Islam lebih mendalam dan menyangkut persoalan hidup multi
dimensional, yaitu pendidikan yang tidak terpisahkan dari tugas kekhalifahan
manusia, atau lebih khusus lagi sebagai penyiapan kader-kader khalifah dalam
rangka membangun kehidupan dunia yang makmur, dinamis, harmonis dan lestari
sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam al Qur’an. Pendidikan Islam adalah
pendidikan yang ideal, sebab visi dan misinya adalah “Rohmatan Lil ‘Alamin”,
yaitu untuk membangun kehidupan dunia yang yang makmur, demokratis, adil,
damai, taat hukum, dinamis, dan harmonis.[12]
Munzir Hitami
berpendapat bahwa tujuan pendidikan tidak terlepas dari tujuan hidup manusia,
biarpun dipengaruhi oleh berbagai budaya, pandangan hidup, atau
keinginan-keinginan lainnya. Bila dilihat dari ayat-ayat al Qur’an ataupun
hadits yang mengisyaratkan tujuan hidup manusia yang sekaligus menjadi tujuan
pendidikan, terdapat beberapa macam tujuan, termasuk tujuan yang bersifat
teleologik itu sebagai berbau mistik dan takhayul dapat dipahami karena mereka
menganut konsep konsep ontologi positivistik yang mendasar kebenaran hanya
kepada empiris sensual, yakni sesuatu yang teramati dan terukur.[13]
Qodri Azizy
menyebutkan batasan tentang definisi pendidikan agama Islam dalam dua hal,
yaitu; a) mendidik peserta didik untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai
atau akhlak Islam; b) mendidik peserta didik untuk mempelajari materi ajaran
Islam. Sehingga pengertian pendidikan agama Islam merupakan usaha secara sadar
dalam memberikan bimbingan kepada anak didik untuk berperilaku sesuai dengan
ajaran Islam dan memberikan pelajaran dengan materi-materi tentang pengetahuan
Islam.[14]
BAB III
KESIMPULAN
Dari beberapa
uraian yang telah penulis kemukakan dari beberapa pendapat para tokoh
pendidikian Islam bahwa pendidikan pada dasarnya memiliki beberapa tujuan.
Tujuan yang terpenting adalah pembentukan akhlak objek didikan sehingga semua
tujuan pendidikan dapat dicapai dengan landasan moral dan etika Islam, yang
tentunya memiliki tujuan kemashlahatan di dalam mencapai tujuan tersebut.
Sebagaimana
dalam ayat-ayat di atas ada beberapa hal yang harus dilakukan seseorang untuk
mencapai tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu:
1. Memperdalam ilmu dan iman dengan memperhatikan sunah-sunah
Allah swt. sebagaimana surat Ali Imran 137-139.
2. Mengisi waktu luang dengan sesuatu yang bermanfaat.
3. Bergaul dengang orang-orang shaleh.
4. Setelah berikhtiar dan berdo’a baru lah kita berserah diri
atau bertawakal.
Mengenai
mekanisme pelaksanaanya, hal ini tentunya memerlukan kajian yang lebih mendalam
sehingga nantinya implementasi dari teori tersebut dapat dipertanggungjawabkan
dan dipandang relevan dengan kondisi yang terikat dengan faktor-faktor
tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Azizy, Ahmad Qodri A. 2000. Islam
dan Permaslahan Sosial; Mencari Jalan Keluar, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Azra. Azyumardi. 2002. Pendidikan
Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu
Hitami, Munzir. 2004. Menggagas
Kembali Pendidikan Islam. Yogyakarta: Infinite Press
Khaldun, Ibnu. 2001. Muqaddimah
Ibnu Khaldun. Jakarta: Pustaka Firdaus
Miskawaih, Ibnu. Tanpa tahun. Tahzib
al-Akhlaq, Mesir: al-Mathbah al-Husainiyyah
Sanaky, Hujair AH.
2003. Paradigma Pendidikan Islam; Membangun Masyarakat Indonesia.
Yogyakarta: Safiria Insania Press dan MSI
Tafsir, Ahmad.
2002. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
[4] yang dimaksud dengan sunnah Allah
di sini ialah hukuman-hukuman Allah yang berupa malapetaka, bencana yang
ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan rasul.
[6] yang dimaksud dengan mukhlis ialah
orang-orang yang Telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan
perintah Allah s.w.t.
[7] Maksudnya pemberian taufiq dari
Allah s.w.t. untuk mentaati-Nya, sehingga seseorang terlepas dari tipu daya
syaitan mengikuti jalan yang lurus yang dijaga Allah s.w.t. jadi sesat atau
tidaknya seseorang adalah Allah yang menentukan.
[10] Azyumardi Azra,
Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta:
Logos Wacana Ilmu, 2002, hal. 5
[12] Hujair AH.
Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam; Membangun Masyarakat Indonesia,
Yogyakarta: Safiria Insania Press dan MSI, hal. 142
[14] Ahmad Qodri
Azizy, Islam dan Permaslahan Sosial; Mencari Jalan Keluar,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003, hal. 22

Tidak ada komentar:
Posting Komentar